Dr. Khusaini: Perbedaan Pandangan adalah Fitrah, Toleransi Harus Dijaga
TANGERANG, 26 Desember 2022 — Perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang perlu ditempatkan secara bijak. Dosen Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, Dr. Khusaini, S.Pd., M.S.E., M.Ak., menilai bahwa perbedaan merupakan fitrah yang perlu disikapi dengan keterbukaan, pengetahuan, dan sikap saling menghargai.
Pandangan tersebut disampaikan Khusaini ketika membahas persoalan radikalisme dan intoleransi. Menurutnya, dalam ilmu pengetahuan cara berpikir yang mendalam dan menyeluruh diperlukan untuk memahami suatu persoalan. Sementara dalam konteks agama, pemahaman yang tidak utuh terhadap suatu dalil dapat berpotensi melahirkan penafsiran yang sempit.
Karena itu, menurut Khusaini, seseorang perlu memiliki kemauan untuk belajar dan membandingkan berbagai sumber agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan terhadap suatu persoalan.
Perbedaan pandangan bukan alasan untuk menghilangkan sikap saling menghargai.
🧠 Memahami Radikalisme secara Lebih Utuh
Khusaini menjelaskan bahwa radikalisme memiliki pengertian yang berbeda bergantung pada konteksnya. Dalam ilmu pengetahuan, cara berpikir radikal dapat dimaknai sebagai upaya memahami suatu persoalan secara mendalam dan tidak hanya melihatnya secara parsial.
Namun, dalam konteks agama, istilah radikalisme sering dikaitkan dengan tindakan yang dilakukan berdasarkan pemahaman atau keyakinan tertentu secara langsung. Persoalan dapat muncul ketika seseorang hanya menggunakan satu dasar pemahaman tanpa membandingkannya dengan sumber atau pandangan lainnya.
Menurut Khusaini, pemahaman terhadap suatu persoalan sebaiknya dilakukan secara lebih luas agar seseorang tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan satu sumber saja.
“Harusnya diperbandingkan.”
— Dr. Khusaini, S.Pd., M.S.E., M.Ak.
🤝 Perbedaan Pandangan sebagai Fitrah
Perbedaan pandangan, menurut Khusaini, merupakan sesuatu yang secara alamiah ada dalam kehidupan manusia. Perbedaan tersebut seharusnya tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang memisahkan, tetapi dapat menjadi bagian dari proses untuk saling mengenal dan memahami.
Persoalan muncul ketika perbedaan tidak lagi ditempatkan secara proporsional. Perbedaan keyakinan maupun pandangan dapat memunculkan sikap saling menyalahkan apabila seseorang hanya menganggap kelompoknya sendiri sebagai kelompok yang paling benar.
Karena itu, kemampuan untuk menerima keberagaman menjadi penting dalam kehidupan masyarakat. Sikap terbuka terhadap perbedaan dapat membantu membangun hubungan sosial yang lebih harmonis.
“Perbedaan itu adalah fitrah, sengaja Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda, berbangsa-bangsa, bersuku-suku tapi tujuannya tidak lain hanya saling mengenal.”
— Dr. Khusaini, S.Pd., M.S.E., M.Ak.
⚖️ Intoleransi dan Pentingnya Sikap Terbuka
Khusaini menjelaskan bahwa di Indonesia, radikalisme kerap dikaitkan dengan tindakan intoleransi. Sikap intoleran dapat muncul ketika seseorang tidak menerima keyakinan, pandangan, atau simbol yang berasal dari kelompok lain.
Menurutnya, kelompok yang memiliki pandangan ekstrem tidak hanya dapat ditemukan dalam satu agama tertentu. Fenomena tersebut dapat muncul dalam berbagai kelompok keagamaan. Karena itu, persoalan intoleransi perlu dilihat secara lebih objektif dan tidak langsung dilekatkan pada agama tertentu.
Ia juga mengingatkan bahwa tindakan yang dianggap radikal tidak selalu dapat digeneralisasi terhadap seluruh kelompok. Pemahaman yang terburu-buru dapat melahirkan stigma yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Sikap kritis dan kemampuan memahami konteks menjadi penting agar seseorang tidak mudah memberikan penilaian terhadap kelompok maupun individu hanya berdasarkan informasi yang terbatas.
📚 Belajar dari Sumber yang Tepat
Di tengah perkembangan informasi yang semakin cepat, Khusaini mengingatkan pentingnya memiliki sumber belajar yang dapat dipercaya. Media sosial dan internet dapat menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperiksa dan dipahami secara kritis.
Menurutnya, seseorang sebaiknya tidak hanya membaca satu sumber ketika menemukan informasi yang berkaitan dengan persoalan sensitif atau memiliki banyak sudut pandang. Informasi tersebut perlu dibandingkan dan dikonsultasikan kepada orang yang memiliki keahlian di bidangnya.
Kehadiran guru atau orang yang memiliki kompetensi menjadi penting untuk membantu seseorang memahami informasi secara lebih tepat. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada membaca informasi, tetapi juga mencakup proses memahami, membandingkan, dan menguji kebenarannya.
“Yang paling penting ketika menemukan sesuatu yang sifatnya ada keganjilan dan keanehan yang tidak sesuai dengan pendapat selama ini diterima, seharusnya ditanyakan kepada orang yang lebih ahli.”
— Dr. Khusaini, S.Pd., M.S.E., M.Ak.
🔎 Tidak Mudah Menghakimi Perbedaan
Perbedaan pemahaman dapat ditemukan dalam berbagai kehidupan sosial, termasuk dalam kehidupan beragama. Karena itu, kemampuan untuk tidak mudah menghakimi menjadi salah satu sikap penting dalam menghadapi keberagaman.
Menurut Khusaini, seseorang perlu memahami bahwa apa yang diyakininya belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh orang lain. Perbedaan tersebut tidak secara otomatis menjadi alasan untuk menilai atau menyalahkan pihak lain.
Sikap saling mengenal dan memahami dapat menjadi jalan untuk membangun hubungan yang lebih baik di tengah keberagaman masyarakat.
🌱 Pendidikan sebagai Jalan Memahami Keberagaman
Pembelajaran menjadi salah satu cara untuk membantu seseorang memahami berbagai sudut pandang. Dengan belajar dari sumber yang tepat dan berdiskusi dengan orang yang memiliki kompetensi, seseorang dapat memperluas cara pandangnya terhadap suatu persoalan.
Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, kemampuan memahami perbedaan menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Mahasiswa juga memiliki peran untuk membangun budaya dialog, berpikir kritis, serta menghargai pandangan yang berbeda.
Pemahaman tersebut dapat membantu mahasiswa menjadi bagian dari masyarakat yang mampu menghadapi keberagaman dengan sikap dewasa, terbuka, dan bertanggung jawab.
Belajar, Memahami, dan Menghargai Perbedaan
Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dengan pengetahuan, sumber belajar yang tepat, dan sikap saling menghargai, keberagaman dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan membangun kehidupan yang lebih harmonis.
Rumah Calon Pendidik dan Edupreneur
Mendorong mahasiswa untuk terus belajar, berpikir kritis, membangun komunikasi, dan berkontribusi secara positif dalam masyarakat yang beragam.