Implementasi SDGs Desa, Dosen FKIP UNIS Dampingi Kader PKK Olah Sampah Jadi Bernilai Ekonomi
KABUPATEN TANGERANG, 14 Agustus 2026 — Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) Desa tidak hanya berbicara tentang target pembangunan, tetapi dapat dimulai dari aktivitas sederhana di lingkungan keluarga. Hal inilah yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Kemasyarakatan (KKK) Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang melalui kegiatan pendampingan pengolahan sampah organik menjadi kompos yang melibatkan kader PKK di Desa Kampung Besar, Kabupaten Tangerang.
Kegiatan pendampingan kader PKK oleh mahasiswa dan dosen FKIP UNIS dalam pengolahan sampah organik.
Menggandeng dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNIS sebagai narasumber, mahasiswa KKK mendorong implementasi SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui kegiatan ini, sampah organik rumah tangga yang sebelumnya hanya menjadi limbah diperkenalkan sebagai bahan produktif yang dapat diolah menggunakan komposter sederhana. Hasil pengolahannya berupa kompos padat dan pupuk organik cair dari air lindi yang dapat dimanfaatkan sendiri untuk tanaman maupun dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Sampah rumah tangga diolah menjadi manfaat lingkungan sekaligus peluang ekonomi.
🌿 Dari Lingkungan Keluarga untuk Perubahan Berkelanjutan
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKK Desa Kampung Besar, Dr. Mamay Komariyah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan, terutama pengelolaan sampah pada level keluarga.
“Lingkungan keluarga menjadi salah satu titik penting untuk memulai perubahan. Melalui pendampingan pengolahan sampah ini, kami berharap masyarakat tidak hanya semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu mengolah sampah menjadi sesuatu yang produktif. Komposnya dapat digunakan sendiri, bahkan berpotensi dijual,” ujarnya.
DR. MAMAY KOMARIYAH · DOSEN PEMBIMBING LAPANGAN KKK DESA KAMPUNG BESAR
Pendampingan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa implementasi SDGs dapat dilakukan melalui program yang sederhana, terukur, dan bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Sampah organik yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan dapat berubah menjadi sumber manfaat sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi kader PKK.
🤝 Kolaborasi Mahasiswa, Dosen, Masyarakat, dan Pemerintah Desa
Dr. Rizal Fahmi menilai kegiatan kolaboratif antara mahasiswa, dosen, masyarakat, dan pemerintah desa tersebut sebagai bentuk nyata implementasi SDGs di tingkat desa.
“Implementasi SDGs Desa saat ini menjadi isu penting. Saya sangat mengapresiasi kolaborasi kelompok KKK Kampung Besar dengan pihak desa. SDG 8, 11, dan 12 dapat berjalan beriringan karena kebersihan lingkungan dapat dibangun sekaligus dengan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
DR. RIZAL FAHMI
🏘️ Desa Dorong Kader PKK Terapkan Pengetahuan di Rumah
Apresiasi juga disampaikan Muslih, S.Pd., sebagai perwakilan desa. Menurutnya, kehadiran narasumber yang memberikan praktik secara langsung menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi para kader PKK.
“Kami berharap ilmu yang sudah diberikan tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Para kader PKK yang hadir diharapkan mulai mengimplementasikannya di lingkungan rumah masing-masing sehingga manfaatnya dapat terus berkembang di masyarakat,” katanya.
MUSLIH, S.Pd. · PERWAKILAN DESA
Praktik penyiapan bahan pengolahan sampah organik sebagai bagian dari pendampingan langsung kepada kader PKK.
♻️ Komposter Sederhana, Sampah Jadi Produk Bernilai
Sementara itu, Dr. Dadang Saepuloh, sebagai narasumber sekaligus Wakil Dekan I FKIP UNIS menyampaikan kegiatan, memberikan pendampingan praktik pembuatan komposter sederhana dan pengenalan pembuatan larutan aktivator dari bahan-bahan yang mudah diperoleh masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan sampah organik melalui teknologi sederhana dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi ibu-ibu PKK untuk menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan secara langsung.
“Komposter sederhana dapat membantu masyarakat mengurangi sampah organik dari rumah. Hasilnya berupa kompos padat dan pupuk cair dapat digunakan untuk tanaman. Jika dilakukan secara konsisten, dikemas dengan baik, dan dikelola bersama, hasil pengolahan tersebut juga memiliki nilai jual. Artinya, lingkungan menjadi lebih bersih dan pada saat yang sama dapat menghadirkan peluang ekonomi bagi masyarakat,” jelas Dadang.
DR. DADANG SAEPULOH · WAKIL DEKAN I FKIP UNIS
Demonstrasi penggunaan komposter sederhana oleh narasumber untuk pengolahan sampah rumah tangga.
💡 Membangun Kesadaran bahwa Sampah Memiliki Nilai
Pendampingan tidak hanya berorientasi pada kemampuan membuat kompos, tetapi juga membangun kesadaran bahwa sampah memiliki nilai ketika dikelola dengan pengetahuan dan kreativitas. Dari dapur rumah tangga, kader PKK dapat mulai memilah sampah, mengolah limbah organik, mengurangi volume sampah yang dibuang, sekaligus menghasilkan pupuk yang dapat dimanfaatkan maupun dipasarkan.
🌍 Lingkungan dan Ekonomi Berjalan Beriringan
Program tersebut memperlihatkan hubungan nyata antara aspek lingkungan dan ekonomi dalam SDGs. SDG 11 diterapkan melalui upaya menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih dan sehat, SDG 12 melalui pengurangan serta pemanfaatan kembali sampah organik, sedangkan SDG 8 diwujudkan melalui pengembangan produk kompos yang berpotensi membuka peluang usaha mandiri bagi masyarakat.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKK, Pemerintah Desa, dan Kader PKK, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebatas pelatihan. Kebiasaan memilah dan mengolah sampah diharapkan tumbuh menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan.
Dari langkah sederhana tersebut, pesan pembangunan berkelanjutan menjadi semakin konkret: rumah lebih bersih, volume sampah berkurang, tanaman lebih subur, dan sampah organik pun berpeluang berubah menjadi cuan bagi keluarga.
Galeri Implementasi SDGs Desa
Rumah Calon Pendidik dan Edupreneur
Menguatkan kompetensi, memperluas pengalaman, dan membangun lulusan yang siap menghadapi perubahan dunia pendidikan dan dunia kerja.






